mengecapmimpi

Mei 13, 2010

payah

Filed under: Tak Berkategori — mauharta @ 5:38 am

kapan kita bisa meminta data warga secara cepat dan tepat disetiap RT di Indonesia ini?

Oktober 31, 2008

Bang Pol di Lintasan….

Filed under: Tak Berkategori — mauharta @ 3:22 pm

Semoga terus berbenah. Mungkin harapan inilah yang terus kuperdengarkan dalam hatiku tatkala melihat para pemegang kepercayaan atas keselamatan berkendara di aspal hitam itu. Tidak bermaksud propaganda ataupun menjilat ataupun “angkat telor” atau apapun namanya. Yang pasti ini adalah pantauan dari sebuah sisi yang selama ini terlupakan dikarenakan segunungnya ungkapan negatif dari masyarakat terhadap petugas lalu lintas itu. Ini adalah kata hatiku yang keluar setelah sekian lama terendam. Mungkin luapannya yang berasal dari pandangan demi pandanganku selama beberapa hari sudah tak mampu lagi tertahan oleh katup hatiku.

Segera subuh menghabiskan waktunya, embun yang mengendap di setiap benda di bawah langit itu, kini mulai memadukan diri dan membentuk buliran dan siap menetes satu persatu ke bumi. pada waktu itu, rutinitasku harus aku lakukan, yakni, mengantar langganan yang jaraknya 12 km dari tempatku tinggal, dan kemudian, akan menjemputnya sore hari. Selama ini aku jarang melewati lintasan padat itu, karena motor baru saja aku miliki walau masih kredit, dan kini harus, karena aku punya langganan.

Di sebuah jalan protokol, motorku pernah ditahan. Aku tidak memiliki apa-apa karena motor baru beberapa hari angkat kredit. Jadi belum ada surat ini surat itu, aku sudah jalankan motorku di jalan yang tidak sepantasnya. Biasalah, kalau tidak di pos, setelah keluar surat tilang, motor akan diselesaikan dikantor dan pengadilan. Ini lebih baik daripada harus selesai di jalanan seperti yang sudah – sudah yang pernah aku lihat dan alami. Namun kini, aku dibawa  ke sebuah warung kopi di belakang pos polisi. Tanya demi tanya, aku memohon dilepas sementara, karena aku harus mengantar pelanggan. Ia harus menyusul gerbang tempat ia bekerja karena sebentar lagi akan ditutup.  “Tidak bisa”, itulah jawaban yang aku terima. Akhirnya pelangganku terpaksa aku naikkan ke ojek lain dan ongkosnya aku bayar. Aku mencintai komitmen selagi aku bisa menepatinya.

Setelah kembali ke “pos sarapan” aku menyebutnya seketika itu, aku menjelaskan. Syukurlah, entah iba, entah menanggapi realistis penjelasanku, atau apalah, kunci motorku dikembalikan. Sebelumnya sempat terjadi adu argumen, namun karena tempatnya di “pos sarapan”, aku yakin saja kalau abang-abang itu akan melepaskanku. Dan ternyata benar walau pada akhirnya aku harus membayar ciak kopi di warung itu. Memang judulnya tetap bayar, tapikan tidak judul besar dan kasar, agak sedikit halus. Kemudian aku disarankan untuk lewat jalur – jalur belakang saja agar tidak ditahan lagi. Sebab, tidak mungkin mereka, petugas, tidak meninlaklanjuti pengendara yang tidak memenuhi syarat berkendara di jalan utama. Ungkapan penuh toleransi inilah yang pertama aku simpan dalam hatiku.

Akhirnya aku tetap bisa mengendarai motor dan terus mengantar langganan. Sepanjang perjalanan itu sampai tulisan ini aku muat, aku terus waspada. Takut-takut kalau nanti kejadian terulang lagi. Karena surat-suratku memang belum lengkap. Disepanjang kewaspadaan yang aku tingkatkan itu, di setiap simpang lintasan yang aku lewati, dimanapun, setiap pagi, sudah berdiri satu dua orang pahlawan, sebutanku, pengendara itu. Rasa kewaspadaan dan kejengkelanku sebelumnya kini berubah menjadi rasa enggan dan hormat yang begitu besar terhadap mereka. Mengapa tidak. Di tengah aspal yang selalu mencerkau kulit pengendara hingga tampaklah daging, membolongkan kepala hingga keluarlah otak, mengurut tengkorak hingga patahlah tulang, bahkan sampai mengoyak-ngoyak raga hingga tak layak ditempati jiwa, mereka berdiri. Mengayunkan tangan membunyikan lipri mengatur pengendara, memberi kode kepada penyebarang setiap ada yang menyembarang, terus menerus mereka lakukan. Menyeletuk dalam hatiku, “bagaimana jika ada pengendara yang di luar kesadaran melaju kencang. Apa yang terjadi?”.Akh, aku tak ingin terus membayangkannya. Kutepis saja dan aku berdoa. Semoga ketulusan mereka mendapat balasan dari-Nya.

Jikalau sudah begini, berapa banyak lagi, ungkapan negatif yang kita budayakan membincangkannya. Apakah sebagai manusia yang ingin bersikap adil terhadap diri sendiri, tidak ingin membicarakan dari sisi lain. Ataukah ini ego atau sebuah dendam?. Di tengah gembiranya matahari menaikkan suhu panasnya, mereka terkadang berdiri dengan baju di bagian ketiaknya yang basah dan kulit yang mulai terbakar, apakah kita akan berkata kalau itu mereka lakukan pada saat ada tamu penting saja, padahal saat tidak ada tamu penting, kita sedang tidak melihat mereka. Baiklah, mungkin kita tidak akan terus membesarkan masalah ini, sebab disangsikan salah tanggap, namun seberapa dalamkah ungkapan tulus ini akan kita rendam. Sampai kita luka-luka dan mereka membantu menggendong kita ke rumah sakit?. Atau setelah menggendong mayat keluarga kita yang terdampar di persimpangan sunyi?. Atau kesempurnaan yang seutuhnya telah kita temukan sementara kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Mengapa tidak kita hamburkan senyum kita sementara mereka sudah berusaha melakukannya. Mengapa tidak kita pencet klakson kita sementara leher mereka sudah kering karena terus membunyikan liprinya. Bukankah perbuatan yang mengarah pada perbaikan harus kita berikan “tepuk tangan” sehingga terpaculah insan untuk lebih memantapkan kemapanan. Atau jika kita berat, bisakah kita katakan dalam hati saja? Ah, sudahlah aku tak akan berhasrat merubah dunia sementara aku sendiri belum berusaha merubah diri. Lebih baik aku mulai dari diri ini. Maka akan aku katakan, “Bang Pol, engkau bukanlah Tuhan yang memegang kuasa nyawaku, namun engkau adalah aku yang hingga kini masih ingat dan berhati-hati dalam berkendara hari demi hari. Semoga terus berbenah diri….mari….”.

September 11, 2008

Jangan Abaikan

Filed under: Tak Berkategori — mauharta @ 10:34 am

Hari ini aku melakoni pekerjaan seperti biasanya. Mengeluarkan jasa, melayani bagasi anak-anak pekerja yang telah habis masa kontraknya di Kota kubertaut. Esoknya, jika pesawat tidak mengalami kendala ini itu, mereka siap take off dan berkhayal sampai ke kampung halaman dengan beragam rasa. Mudah-mudahan mereka selamat sampai tujuan. Karena dengan munculnya kendala ini itu, penerbangan tentu dibatalkan (cancel) demi sebuah keselamatan. Maklumlah, reputasi bisnis penerbangan beberapa tahun belakangan mengalami penurunan drastis diakibatkan banyaknya kecelakaan yang diluar dugaan. Dan dari kecelakaan tersebut tentunya banyak memakan korban jiwa. Sepertinya keselamatan penumpang sering terabaikan hanya gara-gara nilai bisnis semata. Terlepas dari itu semua, anak-anak tetap harus pulang bersama jutaan rasa yang mengendap dan belum terluap, sebab 2 tahun, minimal waktu mereka bekerja;belum termasuk perpanjangan kontrak, entah apa saja yang sudah terjadi dengan mereka.

Sehabis Jum’atan, saya dan toke (anggap sajalah begitu) berangkat menuju Dormitori di Batam Center. Kerena di sana ada 5 orang pekerja Palembang dan 1 Jawa akan pulang. Tidak ada sesuatu yang berarti di sana kecuali seperti biasanya. Mendatangi kamar mereka-kamar mereka, memanggil dan menyuruh keluar membawa bagasi yang akan diterbangkan besoknya dan bercanda seperti biasa dalam hal timbangmenimbang bagasi. Travel Bag, yang biasa menjadi gudang barang-barang mereka dalam penerbangan, akan ditimbang dan diminta pembayaran. Bagitulah sejatinya: Ada uang barang bisa terbang sampai tujuang arah pulang. Apabila uang gaji maupun tunjangan selama ini dihabiskan begitu saja alias boros, maka bersiap-siaplah pulang tak bawa barang. Lantas apa lagi oleh-oleh untuk keluarga nantinya. Sontak saja hatiku berkata, “Sejemput rindu itu bisa mewakili semuanya. Yang penting sedia payung rasa sebelum datang hujan kata”. Biasalah saudara kita di kampung, majalah “banding membanding” selalu jadi “bacaan” favorit sehari-hari.

Setelah selesai di Cammo Industri,  kami akan berangkat ke dormitori Mukakuning. Di kawasan ini, menurut data lama, ada 21 ribu pekerja yang mayoritasnya wanita. weuw…karena aku lelaki bidal, aku jadi mendongakkan kepala dengan mulut ternganga. Upss…jangan ngeras dulu tu pikiran, yang perangainya baik, banyak, kok!. Tapi apa bedanya, wanita gitu loh. weuw…membayangkannya saja hatiku bermekar-makar, apalagi menyaksikan. Sesaat aku terpikir, “apakah ini tanda akhir zaman itu, kuota wanita lebih banyak dari pria?”. Bagaimana tidak, dari data yang kubaca mengatakan, perbandingannya 4 banding satu. “dJyuuh….gimana melayaninya” kataku dalam hati lagi. Ah, sudahlah, ku-ending saja pikiran kotor itu, aku tak mau melanjutkan khayalan basi.  Yang pasti aku akan menyaksikan sendiri.

Khayal menghakhayal, kami tiba di dormitori, Mukakuning. Kami masuk dari pintu 4 selurus arah Tanjungpiayu. Saksi demi saksi, kami tiba di blok R 21 – R 30 yang terisolasi dalam satu kawasan. Seperti biasa, mengambil data dan memanggil anak-anak di setiap kamarnya adalah menjadi tugasku. Mencatat dan pembayaran bagian pak jun dan memuat barang ke mobil tugas bersama. Namun secara keseluruhan pekerjaan itu sebenarnya ditanggung kami bersama. Sudahlah, tak usah dibahas karena nanti akan salah bahasan.

Sebagian anak-anak sudah berkumpul di pos scurity. Sebagian lagi masih dalam perjalanan membawa bagasi masing-masing. Ada yang lama disebabkan ada yang tinggalnya di lantai teratas yakni, lantai 4. Kali ini banyak kepulangan Palembang. Biasanya, anak-anak Palembang boros dalam membawa oleh-oleh maupun barang pribadi. Jadi, selalu saja barang bawaan over bagasi. Selain itu anak-anak dari Sumatera Selatan, kebanyakan cantik-cantik, jadi untuk lebih mempercantik penampilan, biasanya banyak mengeluarkan modal baik pergi ke salon maupu biaya perawatan kulit. Maklumlah setelah sekian tahun di Kota Industri. Malulah, mbok, gak kelihatan ngetren. Apalagi berada di kota industri yang selalu digembor-gemborkan di Indonesia sebagai kota industri yang paling berdekatan dengan negara tetangga, Singapura dan Malaysia ini, malu dong, gak kelihatan bergaya sedikit kekotaan. Namun sebanarnya, 2 negara dan satu kota, yang selalu disebut-sebut sebagai “piramidia emas” ini adalah kota yang sarat dengan budaya yang kuat yakni, budaya melayu.

Wow…benarkan kubilang, setelah berkumpul semua, barangnya melebihi kuota. Biasa perkapita hanya satu tas, kini ada yang tiga dan kebanyakan dua. Namun pekerjaan harus tetap dilakukan. Selagi mereka sanggup menanggung resikonya, (uang maksudnya) kami akan tetap bekerja dan melayani dengan sebaik mungkin. Melayani tidaklah karena materi semata, namun lebih kepada komitmen bisnis yang telah disepakati sebelumnya. Banyak yang berubah dari setiap anak. Hal ini paling dirasakan oleh pak Jun, karena dari penjemputan anak-anak hingga pulang dua tahun setelahnya, ia yang begitu dekat mereka. Karena hari-hari ia bersentuhan langsung dengan mereka disebabkan jadwal pemulangan yang terus menerus. Kadang keluar juga celoteh dari mulutnya, “Dulu kalian lusuh, lugu semuanya. Sekarang, alamak, semok-semok,” candanya kepada anak-anak yang disambut dengan sorakan oleh anak-anak.

Banyak diantara anak-anak yang mengalami perubahan. Baik dari penampilan, sikap, ucap bahkan mental. Berbicara masalah hal tersebut, agak sulit untuk dikaji. Tidak ada sebuah analisa yang intensitasnya sampai kepada masalah hal yang terkecil. Kebanyakan hanya kajian secara menyeluruh dari hal-hal yang dipandang biasa, seperti perubahan gaya, cara berbicara dan keterbukaan dari sikap sebelumnya dalam keseharian. Walau demikian ini tetap begitu berarti karena ini adalah bagian dari lintas budaya daerah yang ada di Indonesia. Namun, saat melakoni pekerjaan kami, tidak hanyalah itu saja yang ditemukan.  Banyak juga kejadian yang sebenarnya harus diangkat ke permukaan dan dicari solusi karena kejadian-kejadian yang demikian bisa dibilang tidak layak diterima oleh para pekerja.

Beberapa contoh yang bisa saya tuliskan adalah, ketertindasan perempuan disebabkan azas manfaat dari para lelaki yang tidak bertanggungjawab. Berdasarkan informasi-informasi yang saya dengar dan tentunya saya yakin dengan sumber tersebut, banyak diantara para pekerja wanita yang uangnya hanya habis untuk lelaki yang memanfaatkannya. Banyak diantara pekerja wanita disiksa, oleh pacarnya karena tidak bisa memenuhi tuntutan pria. Banyak diantara pakerja wanita, yang menggugurkan kandungan karena lelaki yang masih enggan mempertanggungjawabkan. Banyak diantara pekerja wanita yang dengan kebejatannya sendiri, mudah terpengaruh dengan lelaki yang menawarkan satu kebebasan yang jauh dari norma-norma budaya terlebih agama. Banyak diantara pekerja wanita yang senang dengan sesama jenis akibat kecenderungan takut kepada lelaki yang bakalan menyakitinya. Sebaliknya gejala tersebut, memang sudah ada sebelum para pekerja tiba di kota ini. Dan mungkin ini yang paling menyedihkan, ada diantara para pekerja, yang kebanyakan wanita, strees bahkan gila disebabkan tidak mampuya mereka menahan beban mental dari sesuatu kejadian yang memang mereka tidak harapkan sebelumnya. Hal ini sedikit bisa dibuktikan dari beberapa kejadian seperti banyaknya wanita yang tiba-tiba pingsan setelah sebelum mengigau. Kejadian gadis mengigau dan pingsan ini bukan lagi rahasia umum, sudah biasa. Bahkan pada waktu kejadian itu, penanganannya pun sepertinya tidak canggung lagi. Dan orang-orang yang melihat pun tidak begitu antusian. Dan sepertinya ngigau dan pingsan sudah menjadi “budaya” dikalangan masyarakat pekerja. Begitulah. Kejadian yang menurut mereka biasa, tampaknya perlu juga tidak kita pandang sebelah mata. Hal ini sangat penting daripada terjadi sesuatu yang lebih besar dan terus lancar.

Selama perjalanan melakoni pekerjaan ini, banyak analisa yang sudah saya simpul. Namun aku lebih senang membicarakannya saja. Tidak ditulis. Dan orang yang menjadi tempatku bertukarpikiran, siapa lagi kalau tidak pak jun.  Dari pantauan kami, kami selalu mendiskusikannya. Terkadang mendapat kesimpulan, terkadang gamang. “But its okay, we will find any time”. Namun tulisan kali ini hanyalah sekedar kegelisahan dari pandangan saya saja. Tidak lebih.

September 5, 2008

Jawab

Filed under: Dalam Puisi — mauharta @ 2:52 pm

Melangkah bulan riang

Menapak benderang kelam

Tak ada jelaga

Namun hampa

Kukirim salam awal ikrar kita

Pada dulu kita mengejar separuh agama

Kini bulan tak patuh pada kitab

Dipenuhi nafsu berkombinasi ratap

Jawab!

Dimanakah semestinya bulan berlaku

Berperi layaknya bidadari sufi

Atau sebaliknya meracuni tulang rusuk hakikatmu ada di bumi

Jawab!

Adakah nafsu yang menjadi pilihanmu

Atau hanya sekedar basabasi pada bumi

Agar terlihat indah saat jalan bersama, candaria, sehingga tak keluar peri kalau kita masih sendiri

jawab!

Mengapa bulan harus merusak keindahan bintang

Hingga simponi malam bertabur teriakan dan makian dan pukulan

Aku tak tahan

Jawab!

Ketidaksanggupanku karena apa?

Aku tak tahan menahan radang

Membayu tatakrama lantang pada gunung menjulang

merobohkan gunung kokoh itu dengan menyimpannya dikedalaman hati terdalam,

aku tak sanggup

kini aku sungguh haus darah

oh, dia ada di sekeliling kita

karena kita telah memberinya umpan

aku akan meminumnya

dan

aku mulai menari

mencabik-cabik janji

memperkosa ikrar

par, suara gelegar

aku sedar tak sedar

liukan tutur, tangan, kaki, ringan menjalar

keleher, pipi, mata, kulit, tangan, kaki, paha tanpa menghitung mahar

aku sebenarnya tak kan menjelajahi semua perangkah tubuhmu itu

namun kau terus berkibar

akhirnya kau terkapar

sebab akhirnya kutusuk hatimu

kupahat akalmu, hingga kau tak mampu menari

kini semua semula jadi

jawab!

apakah bulan esok hari akan melangkah pada laluannya?

m.ilyas

Batam, 4 Juni 08.

September 2, 2008

Salam, dunia!

Filed under: Tak Berkategori — mauharta @ 4:07 am

saya senang berada di belantara maya ini. Saya mohon dipandu agar tak tertimpa pohon tumbang dan tersesat akan jalan. Terimakasih. Salam.

Blog di WordPress.com.